
Gimana sih ceritanya seorang anak yang berasal dari satu kampung di Bogor bisa tiba-tiba berangkat ke Amerika tanpa harus mengeluarkan biaya pribadi sedikit pun? Well, this is my personal story yang akhirnya bisa membawa saya untuk menuntut ilmu di negeri Paman Sam Amerika Serikat. Disimak sampai habis yaaaaa 😊
Ikut Program Beasiswa
Yup! Beginilah jalan yang saya tempuh untuk bisa pergi ke luar negeri tanpa harus mengeluarkan biaya sedikit pun. Kalau ditanya kenapa, saya bisa jawab kalau saya tidak memiliki sebegitu banyaknya uang untuk bayar biaya perjalanan ke luar negeri. Apalagi untuk bayar biaya sekolah yang mana sudah saya cita-citakan sejak lama sekali. Kita semua tau bahwa untuk sekolah di luar negeri itu butuh biaya yang tidak sedikit. Sebetulnya saya sendiri tidak pernah punya pemikiran untuk melanjutkan sekolah jauh-jauh sampai ke Amerika Serikat karena menurut saya selama itu di luar Indonesia, itu sudah sangat bagus, seperti ke Jepang, Korea, atau China misalnya.
Lalu muncul pertanyaan, beasiswa apa yang bisa diikuti untuk bisa kuliah ke luar negeri secara gratis? Well, sebenarnya beasiswa kuliah ke luar negeri itu ada banyak sekali. Mulai dari beasiswa yang disediakan oleh pemerintah Indonesia, seperti LPDPP, beasiswa dari kedutaan besar negara asing di Indonesia, seperti beasiswa ke Belanda dan New Zealand, sampai beasiswa langsung dari kampus di luar negerinya sendiri. Kuncinya adalah giat mencari informasi dan banyak sharing sama teman-teman yang memiliki impian sekolah ke luar negeri yang sama. Banyak orang, termasuk teman-teman saya sendiri, yang sering bilang kalau mereka punya keinginan lanjut sekolah ke luar negeri, tapi tidak pernah ada usaha untuk cari informasi sendiri. Padahal jika kita punya keinginan yang besar, seharusnya kita juga melakukan usaha yang sama besarnya atau bahkan lebih untu mencapai tujuan tersebut. Yang seperti ini jangan dicontoh ya!
Saya sendiri mengikuti seleksi beasiswa yang dikenal dengan nama Community College Initiative (CCI) Program yang disediakan oleh lembaga American Indonesian Exchange Foundation atau AMINEF. Saya yakin walaupun setiap tahunnya pelamar beasiswa ini rata-rata bisa mencapai 500 sampai 1000 orang, masih banyak sekali orang yang awam tentang beasiswa ini. Jika teman-teman mau tau lebih detail mengenai beasiswa tersebut, bisa klik link di atas ya untuk baca artikel lengkapnya. Atas ijin Allah dan doa-doa keluarga serta teman-teman semuanya, alhamdulillah saya bisa berangkat di pertengahan bulan Juli tahun 2019 kemarin. Pada saat itu, angkatan kami berjumlah 26 orang dari seluruh wilayah di Indonesia. Teman-teman bisa baca artikel lengkapnya di sini ya.

Cerita Awal Ikut Seleksi
Sejujurnya, saya sendiri belum tau apa itu beasiswa CCI Program sampai pada akhirnya di pertengahan bulan Oktober 2019, teman saya di Bandung yang juga seorang penerima beasiswa S2 Fulbright mengirimkan informasi tersebut melalui chat WhatsApp. Saya masih ingat betul ketika saya menerima pesan tersebut, saya baru selesai solat Ashar di mushola kantor tempat saya bekerja. Dari sinilah rasa penasaran saya mulai muncul. Akhirnya setelah solat dan membaca pesan WhatsApp tersebut, saya kembali lagi ke ruangan saya, bukan untuk melanjutkan pekerjaan, tapi untuk mencari tau lebih lanjut apa itu beasiswa CCI Program, hehehe.
Lebih kurang setengah bulan saya habisnya untuk mempelajari lebih dalam mengenai program beasiswa tersebut karena saya merasa tertarik dan ingin sekali mempersiapkan diri dengan baik untuk ikut seleksi. Berbagai informasi saya cari dengan sebaik mungkin, mulai dari mencari kontak jasa penerjemah dokumen tersumpah sampai dengan menghubungi teman-teman SMA dan kuliah yang dapat membantu saya mengurus salinan dokumen yang harus dilegalisasi sebagai persyaratan wajib yang diminta oleh pihak penyelenggara beasiswa. Tepat pada awal bulan November 2019, semua informasi sudah saya dapatkan dan di bulan November inilah saya mulai eksekusi semuanya.
Tahapan dan Tantangan
Tahap pertama dari setiap program beasiswa tentu saja adalah seleksi berkas atau administrasi. Dalam beasiswa CCI Program ini, adapun berkas-berkas yang diminta antara lain sertifikat TOEFL, ijazah dan transkrip nilai, serta formulir aplikasi yang sudah disediakan. Untuk lebih lengkapnya, teman-teman bisa baca artikel mengenai persyaratan beasiswa CCI Program di blog ini ya.
Dikarenakan pada saat itu saya belum memiliki sertifikat bahasa inggris atau TOEFL, dan setelah saya cek ke sana ke sini ternyata tes TOEFL dari lembaga-lembaga resmi hanya dijadwalkan pada pertengahan bulan Desember 2019 dan membutuhkan waktu sekitar 1-2 minggu untuk dapat menerima hasilnya. Sedangkan, deadline akhir pengumpulan berkas adalah tanggal 31 Desember 2019. Di situ saya bingung sendiri dan sempat pasrah karena tidak tau lagi harus gimana. Tapi, pada akhirnya ada satu lembaga bahasa di Jakarta yang bisa melaksanakan tes TOEFL PBT walaupun hanya sekadar prediction test. Saya saat itu berpikir ‘gpp lah, dari pada gak ada sama sekali’. Saya pun bisa mengambil hasil tesnya sekitar akhir bulan November.
Selain itu, saya juga perlu menyiapkan berkas-berkas yang harus saya terjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Jadi, saya menggunakan jasa penerjemah terjemah di Jakarta yang setelah saya cari-cari ternyata merupakan harga paling murah, sekitar 60 ribu per lembarnya. Alhamdulillah prosesnya juga tidak terlalu sulit, hanya dengan menghubungi via email, mengirimkan dokumen yang ingin diterjemahkan, dan voila! saya sudah menerima hasil terjemahannya hanya dalam jangka waktu 3-4 hari saja. Tidak perlu repot-repot pergi ke kantor, cuti kerja, atau pun buang-buang waktu di perjalanan.

Kemudian, persyaratan yang menurut saya paling penting adalah formulir aplikasi yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dalam bentuk esai. Bagi saya sendiri, saya membutuhkan waktu lebih kurang 2 bulan untuk mempersiapkan persyaratan ini. Mungkin banyak juga teman-teman yang memerlukan waktu sampai berbulan-bulan bahkan sampai ada yang harus mengulang di tahun berikutnya untuk mempersiapkan esai. Esai ini sangat penting mengingat tim penyeleksi akan membaca esai dan jawaban kita untuk menentukan apakah kita layak menjadi kandidat untuk lolos ke tahap selanjutnya. Jadi, pesan saya adalah tolong dipersiapkan dengan sangat matang dan jangan pakai sistem kebut semalam.
Yang lama dari proses pembuatan esai adalah mencari jawaban yang tepat dan menarik karena beberapa pertanyaan memiliki limitasi kata untuk jawabannya dan tugas kita sebagai aplikan adalah menjawabnya dengan singkat dan padat. Tidak perlu bertele-tele dan harus bisa menjawab poin apa yang ditanyakan. Butuh sekitar 30-40 hari untuk saya bisa mendapatkan ide jawaban yang paling efektif. Tentunya, mencari referensi merupakan kegiatan yang paling bersahabat di masa-masa ini. Sedangkan, untuk menuangkan ide dan draft jawaban tersebut ke dalam tulisan, saya hanya membutuhkan waktu sekitar 1-2 minggu saja. Jadi, penting sekali untuk bisa benar-benar merenung jawaban apa yang paling ideal untuk aplikasi beasiswa teman-teman semuanya. Nanti saya akan coba buatkan artikel khusus untuk membahas tips-tips dalam pembuatan esai untuk beasiswa CCI Program. Ditunggu ya! 😁
Tantangan yang paling berat buat saya adalah pengurusan dokumen dan pembuatan esai yang harus dikerjakan berbarengan dengan pekerjaan. Karena kondisi saya saat itu adalah sedang bekerja, sehingga sering kali saya harus mengorbankan waktu istirahat serta pikiran agar dapat menyeselaikan semua persyaratan dengan baik di luar waktu kerja sampai larut malam. Tapi, percayalah bahwa semua kerja keras dan pengorbanan tersebut akan terbayar dengan hasilnya jika teman-teman berhasil mendapatkan beasiswa dan pergi ke luar negeri. Saya juga akan buatkan artikel khusus yang membahas tahapan beasiswa CCI Program secara detailnya.

Kesan dan Pesan
Setelah lebih kurang 7 bulan berkecimpung dengan berkas-berkas persyaratan dan proses seleksi, akhirnya dengan ijin Allah, saya bisa berangkat ke Amerika Serikat untuk melanjutkan kuliah. Perasaan saya senang bukan main karena tidak pernah terpikir saya beneran bisa berangkat ke Amerika Serikat. Banyak hal baru yang bisa dipelajari dan dinikmati selama saya tinggal di Amerika Serikat. Selain itu, pertemanan dengan mahasiswa-mahasiswa internasional membuat pengalaman sekolah di luar negeri menjadi sangat tak terlupakan. Buat teman-teman yang mau tau bagaimana cerita perjalanan pertama saya dari Indonesia ke Amerika Serikat, bisa cek di sini ya.
Buat teman-teman pejuang beasiswa yang saat ini sedang berusaha dengan sangat keras untuk bisa mendapatkan beasiswa sekolah di luar negeri, saya sangat mengapresiasi kerja keras teman-teman semuanya. Jangan pernah menyerah dan berhenti berusaha bagaimana pun hasil yang kita terima karena semua itu adalah bagian dari skenario kehidupan kita. Kita tidak akan pernah tau kapan waktu yang tepat untuk mendapatkan sesuatu. Yang pasti, tuhan sudah menyiapkan semuanya untuk terjadi pada timeline-nya masing-masing.
Semoga keadaan dunia mengenai virus korona dapat cepat berakhir sehingga teman-teman pejuang beasiswa bisa semangat lagi untuk cari beasiswa dan berangkat sekolah ke luar negeri.
Thank you for being patient reader.
Sampai ketemu di postingan berikutnya!




Leave a comment