
Wabah COVID-19 yang belakangan ini muncul diawali dengan kasus pertamanya di Wuhan, Hubei, China, untuk saat ini Amerika Serikat menempati posisi pertama negara dengan kasus wabah COVID-19 terbanyak di dunia melampaui jumlah kasus yang terjadi di China ataupun Italia yang sebelumnya telah diklaim sebagai negara dengan jumlah kasus terbanyak. Para ahli juga memperkirakan puncak kasus terburuk akan mencapai sekitar 240.000 kasus yang baru akan dimulai pada dua pekan mendatang. Maka dari itu, saya ingin bärbari informasi mengenai kondisi terkini di Amerika Serikat dan upaya apa saja yang telah pemerintah lakukan dalam menangani wabah COVID-19 di Amerika Serikat.
15 Januari 2020 Seorang pria berkewarganegaraan Amerika Serikat yang berusia 35 tahun diketahui baru kembali dari Wuhan, China, setelah mengunjungi keluarganya. 17 Januari 2020 Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat mulai mengimplementasikan public health entry screening di bandara San Fransisco, New York, Los Angeles, diikut dengan Atlanta dan Chicago pada pekan berikutnya. CDC juga memulai penelitian masif terkait wabah ini. 19 Januari 2020 Pria 35 tahun tersebut mendatangi klinik urgent care di Snohomish County, Washington, dengan keluhan batuk dan demam selama 4 hari. Beliau memeriksakan dirinya karena melihat pengumuman bahwa CDC sedang meneliti kasus Coronavirus ini pada 17 Januari 2020 lalu. 20 Januari 2020 CDC mendiagnosa bahwa pria tersebut positif terjangkit Coronavirus setelah melakukan beberapa metode pengujian. 30 Januari 2020 WHO mendeklarasikan Coronavirus global health emergency ke seluruh negara di dunia. 31 Januari 2020 Administrasi pemerintahan Trump mengeluarkan larangan masuk ke Amerika Serikat bagi traveler yang memiliki riwayat mengunjungi China dalam rentang waktu 14 hari sebelumnya. Larangan ini tidak berlaku bagi warga negara Amerika Serikat dan atau penduduk tetap di Amerika Serikat. 11 Februari 2020 WHO mengumumkan nama resmi dari wabah Coronavirus, COVID-19. 24 Februari 2020 Administrasi pemerintahan Trump mengajukan dana darurat untuk wabah COVID-19 sebesar 1,25 milyar dollar Amerika kepada pihak Congress sebagai langkah persiapan virus ini melanda kawasan Amerika Serikat. Pada tanggal yang sama, wabah COVID-19 di Amerika Serikat sudah mencapai 35 kasus tanpa korban meninggal. 29 Februari 2020 Amerika Serikat mengumumkan kasus kematian pertama COVID-19 dan mengeluarkan larangan travel (highest-level warning) untuk negara Itali dan Korea Selatan. Selain itu, pemerintah juga menutup semua penerbangan masuk dan keluar Iran serta melarang warga asing yang mengunjungi Iran dalam rentang waktu 14 hari sebelumnya untuk memasuki wilayah Amerika Serikat. 3 Maret 2020 Pemerintah Amerika Serikat mengesahkan pengujian massal oleh CDC. 6 Maret 2020 Presiden Trump menandatangani penyaluran dana sebesar 8,3 milyar dollar Amerika untuk memerangi wabah COVID-19 di Amerika Serikat. 11 Maret 2020 Presiden Trump mengeluarkan larangan penerbangan masuk dan keluar dari seluruh negara di Eropa, kecuali Inggris, selama 30 hari setelah WHO mengumumkan secara resmi COVID-19 sebagai pandemic di hari yang sama. 13 Maret 2020 Presiden Trump mendeklarasikan “National Emergency” dan menyediakan dana federal sebesar 50 milyar dollar Amerika bagi setiap negara bagian untuk menangani wabah COVID-19. Tak lama setelah hal tersebut diumumkan, CDC mengeluarkan surat himbauan mengenai penutupan seluruh instansi pendidikan yang ada di Amerika Serikat setidaknya selama 20 minggu ke depan. 15 Maret 2020 CDC menghimbau untuk tidak melakukan aktifitas yang menimbulkan kerumunan 50 orang atau lebih selama paling cepat 8 minggu ke depan. Diikuti dengan himbauan Presiden Trump keesokan harinya, yaitu tidak berkumpul lebih dari 10 orang. Di hari yang sama, pemerintahan federal Amerika Serikat mengeluarkan perintah untuk melakukan social distancing dan self-quarantine selama 15 hari sampai tanggal 30 Maret 2020. 21 Maret 2020 Sebagian perusahaan kecil maupun besar di Amerika Serikat memberhentikan dan mengalihkan bisnisnya untuk memproduksi alat-alat kesehatan yang dibutuhkan rumah sakit, seperti masker, produk garmen, dan ventilator, untuk mendukung ketersediaan stok. 25 Maret 2020 Amerika Serikat menjadi negara dengan jumlah kasus COVID-19 terbanyak di dunia. 27 Maret 2020 Presiden Trump menandatangani surat penyaluran dana stimulus sebesar 2,2 triliun dollar Amerika untuk menanggulangi wabah COVID-19 di Amerika Serikat. 29 Maret 2020 Presiden Trump memperpanjang aturan social distancing dan self-quarantine yang sebelumnya telah dikeluarkan oleh pemerintah federal Amerika Serikat yang berakhir pada 30 Maret 2020 menjadi 30 April 2020. 31 Maret 2020 Presiden Trump menandatangani penyaluran dana bantuan langsung tunai sebesar 1.200 dollar Amerika bagi setiap orang yang memiliki penghasilan per tahun di bawah 75.000 dollar Amerika.
Dampak COVID-19 Terhadap Kehidupan Sosial Masyarakat

Wabah COVID-19 tentunya sangat mempengaruhi kegiatan semua orang di dunia ini, termasuk Indonesia dan Amerika Serikat. Hal pertama yang saya lihat terjadi di Amerika Serikat setelah adanya wabah COVID-19 ini adalah panic buying yang mulai muncul di permulaan bulan Maret lalu. Masyarakat di Amerika Serikat mulai memborong kebutuhan sehari-hari seperti sabun, hand sanitizer, toilet paper, tisu, alat-alat kebersihan, sarung tangan, masker, makanan yang bisa bertahan lama seperti beras, daging, telur, susu, makanan kaleng, makanan beku, dan produk-produk lainnya. Semenjak saat ini, masyarakat pun mulai berubah, seperti mengenakan masker dan sarung tangan plastik ataupun latex ketika bepergian ke luar rumah yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Selain itu, pemerintah setempat juga secara cepat mulai menyediakan hand sanitizer di setiap tempat publik, seperti bandara, pusat perbelanjaan, kantor-kantor, dan lain sebagainya.
Meskipun saya rasa sebagian besar masyarakat di Amerika Serikat dengan sangat cepat dan mudah beradaptasi untuk mengikuti panduan yang diinformasikan oleh pemerintah setempat atau WHO mengenai cara melindungi diri dan keluarga dari virus COVID-19, tidak sedikit juga dari mereka yang mengabaikannya, khususnya dikalangan para pemuda. Hal ini disebabkan oleh kemunculan wabah COVID-19 yang bertepatan dengan libur musim semi (spring break, berlangsung selama 8 hari) di Amerika Serikat.
Dampak pada Sistem Pendidikan
Pada tanggal 7 Maret 2020, University of Washington menjadi universitas pertama di Amerika Serikat yang menutup kampusnya dan mengalihkan semua pembelajaran tatap muka menjadi kelas online, bahkan sebelum adanya himbauan dari CDC yang muncul sekitar satu pekan setelahnya pada tanggal 13 Maret 2020. Selanjutnya pada tanggal 10 Maret 2020, Harvard University yang berlokasi di wilayah Cambridge, Massachusetts juga menutup kampus dan mengalihkan seluruh kegiatan perkuliahannya. Harvard juga mengambil kebijakan untuk menutup dormitory kampus yang mengakibatkan para mahasiswa yang tinggal di sana harus mulai berkemas dan meninggalkan wilayah universitas dalam jangka waktu 5 hari.
Setelah CDC secara resmi menghimbau penutupan kegiatan belajar dan kampus pada tanggal 13 Maret 2020, barulah seluruh instansi pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi di Amerika Serikat resmi menutup kampus mereka dan mengalihkan seluruh kegiatan belajar dan ujian menjadi berbasis online. Mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir, seperti saya, juga harus kecewa karena kegiatan wisuda sudah resmi dibatalkan di seluruh Amerika Serikat. Kegiatan wisuda biasanya dilaksanakan dua kali dalam setahun, yaitu sekitar bulan Mei-Juni dan November-Desember.
Walaupun begitu, banyak juga perusahaan dan pihak lain yang mendukung para mahasiswa agar tetap bisa belajar secara efektif. Misalnya: Amazon Audible, layanan berlangganan untuk mengakses buku dan audio secara online, membatalkan sistem pembayaran dan membukanya secara gratis bagi semua kalangan masyarakat yang ada di Amerika Serikat. Adobe, sebuah perusahaan yang fokus pada bidang pengembangan aplikasi digital dan grafik, menggratiskan seluruh akses berbayar pada aplikasi-aplikasi premiumnya kepada seluruh mahasiswa di Amerika Serikat. Universitas-universitas besar seperti Harvard University, Massachusetts Institute of Technology (MIT), dan beberapa lainnya membuka akses pembelajaran dan sumber bacaan di kampusnya secara luas kepada seluruh kalangan masyarakat di Amerika Serikat, bahkan bisa diakses oleh mereka yang bukan berstatus mahasiswa di universitas-universitas tersebut. Di kampus saya sendiri, pihak kampus menyediakan satu unit laptop bagi mahasiswa yang tidak memiliki akses komputer di rumahnya dengan mengirimkannya ke alamat masing-masing mahasiswa secara bertahap. Kemudian pihak kampus saya juga bekerja sama dengan provider jaringan internet lokal untuk menyediakan akses internet (wifi) gratis bagi setiap mahasiswa agar kegiatan belajar-mengajar dapat tetap berjalan dengan baik.

Dampak Terhadap Bisnis dan Ekonomi
Berdasarkan laporan dari Departemen Ketenagakerjaan Amerika Serikat pada 21 Maret 2020, sejauh ini sudah ada 3,3 juta orang Amerika yang kehilangan pekerjaannya akibat wabah COVID-19. Hal tersebut disebabkan oleh kebanyakan dari mereka yang masih berstatus pegawai kontrak dalam bidang pekerjaannya. Para ahli ekonomi memprediksikan bahwa angka tersebut akan terus bertambah sekitar 2,7 juta pada permulaan bulan April 2020.
Semenjak diberlakukannya kebijakan social distancing dan stay-at-home order pada pertengahan bulan Maret lalu, banyak retailer dan restoran berbondong-bondong menutup bisnisnya. Selain itu, taman hiburan, seperti Disneyland, Universal Studio, SeaWorld, dan sebagainnya, juga sudah tutup hingga saat ini. Kebijakan yang berlaku untuk para pelaku usaha yang diperbolehkan tetap buka hingga saat ini adalah pusat perbelanjaan kebutuhan sehari-hari atau grocery stores, restoran cepat saji yang hanya diperbolehkan take-out atau delivery, dan toko farmasi.
Dampak Terhadap Kegiatan Sehari-Hari
Peraturan mengenai social distancing dan self-quarantine mulai diberlakukan sejak 14 Maret 2020. Di hari yang sama, saya baru tiba di apartemen saya di wilayah Orlando, Florida, setelah pulang dari perjalanan liburan saya. Mulai saat itu, saya melakukan self-quarantine di dan tidak bepergian ke luar rumah. Karena saya memiliki seorang koordinator di kampus, di saat ada wabah seperti ini maka kebutuhan sehari-hari saya sudah disediakan olehnya dengan memesannya secara online dan akan dikirim ke rumah saya sehingga saya tidak perlu pergi ke pusat perbelanjaan.
Kemudian, kebanyakan dari mahasiswa di Amerika Serikat sudah terbiasa dengan sistem pembelajaran online sehingga saya rasa peralihan pembelajaran tatap muka ke kelas online tidaklah begitu merepotkan. Fall semester lalu saya juga mengambil beberapa kelas online, tapi tidak dengan Spring semester saat ini, kelas saya kebetulan tatap muka semua. Akan tetapi, saya merasa tidak ada masalah mengenai hal tersebut karena sudah terbiasa dari Fall semester kemarin.
Apa yang Bisa Kita Lakukan Sebagai Pemuda Indonesia?
- Rajin menjaga kebersihan. Cuci tangan, mandi, ganti pakaian, memelihara kebersihan lingkungan sekitar, dan lain sebagainya.
- Gunakan sabun dan air untuk mencuci tangan dari pada hand sanitizer. Gunakan hand sanitizer hanya ketika dalam keadaan darurat atau sedang dalam perjalanan. Penggunaan hand sanitizer yang sering dapat melemahkan bakteri baik yang ada pada permukaan kulit, menyebabkan iritasi pada kulit, mengandung alkohol dan bahan kimia dengan dosis tinggi, dan membuat kuman kebal terhadap antibiotik.
- Tidak ikut serta dalam aksi panic buying terhadap item-item berikut: masker wajah, sabun, alat kebersihan, hand sanitizer, disinfektan, dan lain sebagainya. Beli secukupnya dan perlu diingat bahwa orang lain juga membutuhkannya.
- Ikuti himbauan mengenai cara bersin, batuk, dan tidak menyentuh wajah, mulut, hidung, atau mata.
- Batasi penggunaan barang-barang secara massal. Pisahkan barang-barang dan gunakan hanya untuk diri sendiri. Lakukan dengan konsisten.
- Stay at home, jika ada kesempatan.
- Jika terpaksa harus bepergian, lakukan social distancing dengan konsisten. Manfaatkan perkembangan teknologi untuk tetap terhubung dengan orang-orang di sekitar.
- Bantu pemerintah setempat untuk menangani wabah COVID-19 di daerah masing-masing dengan cara apapun yang bisa teman-teman lakukan. Ini lebih baik dari pada hanya sekedar komplain terhadap kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah setempat.
- Berikan berita dan himbauan yang baik dan benar kepada masyarakat seluas-luasnya. Hindari berita hoax. Cek ulang sebelum teman-teman menyebarkan informasi.
- Selalu berdoa dan tetaplah produktif!
Referensi Bermanfaat
Berikut ini ada beberapa referensi yang bisa teman-teman baca dan sebarluaskan. Mari kita sama-sama semangat dalam melawan wabah COVID-19 ini. Indonesia bisa!
Mari kita berjuang bersama-sama untuk membantu Indonesia melewati masa-masa yang tidak menentu seperti saat ini. Semoga kita bisa sama memerangi wabah COVID-19 yang sedang merebak di Indonesia dan dunia. Thank you for being patient reader. Sampai ketemu di postingan berikutnya!




Leave a comment